oleh

Kemenkes Benarkan Kecanduan Game Berpotensi Gangguan Jiwa

KanalBekasi.com – Anak-anak dan dewasa saat ini telah dimanjakan dengan berbagai macam permainan digital dengan menawarkan banyak varian tertentu. Game yang ditawarkan selain beragam juga dapat dimainkan semua level umur dimasyarakat. Sayangnya kecanduan game terlebih bagi anak-anak mempunyai evek negatif

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan Dr Fidiansjah mengatakan pecandu game berpotensi mengalami gangguan jiwa. Pecandu game sama dengan ketergantungan terhadap Napza.

Baca Juga: Orang Tua Batasi Anak Bermain Gadget

‘Pecandu game setelah diteliti otaknya kalau dia terpapar sejak balita kerusakannya sama dengan pecandu Napza. Kalau prefrontal cortex belum berfungsi tapi sudah diberi kesenangan game, akibatnya dia merasa adiksi yang menyenangkan akibatnya anak-anak tidak mau belajar. Ini lebih berbahaya dripada psikotropika dan zat adiktif,” ucap dr. Fidi.

Gejalanya paling mudah bisa ditemukan oleh keluarga sendiri. Dapat dilihat dari kebiasaan seperti lebih memilih main game daripada belajar, atau bermain game dalam waktu yang lama.

Upaya Kemenkes dalam menanggulangi masalah tersebut dengan menyosialisasikan penggunaan teknologi dengan cerdasa. Artinya dengan pendekatan edukasi pada orangtua, dan pelajar mengenai penggunaan teknologi sesuai fungsinya, dan menjelaskan bahwa penggunaan teknologi dengan tidak bijak merupakan ancaman dan tantangan.

“Di keluarga harus dibiasakan hal sederhana, misal ada waktu keluarga tanpa hp, misal saat beribadah dan makan,” ujar dr. Fidi.

Diinformasikan baru-baru ini, kasus anak kecanduan gadget yang parah terjadi di Bondowoso, Jawa Timur. Pihak medis di Poli Jiwa RSUD Koesnadi Bondowoso menyatakan bahwa telah merawat dua orang siswa yang kecanduan bermain perangkat elektronik baik ponsel pintar maupun komputer jinjing.

Kasus anak kecanduan gadget ini dikatakan parah, karena kedua anak tersebut akan melakukan hal ekstrim bila dilarang menggunakan gadget.

Dewi Prisca Sembiring, Sp.Kj. Seorang spesialis jiwa di RSUD Koesnadi mengatakan, kedua pasien merupakan siswa SMP dan SMA. Salah satu dari mereka membenturkan kepalanya sendiri ke tembok saat ingin bermain gadget namun dilarang oleh orangtuanya.

Ketika psikotes diberikan pada kedua anak tersebut. Salah satu dari mereka menunjukkan hasil bahwa ia mengidentifikasi diri sebagai seorang pembunuh, dan orang yang paling dibenci adalah orangtuanya karena menjadi penghalang antara dirinya dan gadget yang sangat ia senangi.(sgr)

Komentar

News Feed