oleh

Harus Diminum Setiap Hari, Obat HIV Ternyata Masih Langka

KanalBekasi.com – Hari AIDS Sedunia diperingati dengan tujuan mengingatkan dan mengedukasi masyarakat mengenai HIV/AIDS. HIV adalah virus yang dapat menyebabkan kerusakan sistem kekebalan tubuh. Istilah “HIV” merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh tidak dapat bekerja efektif. Sistem kekebalan tubuh kita bisa berperan menghalau virus yang akan menyerang tubuh kita.

AIDS merupakan kependekan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome. Jika HIV adalah virus yang dapat menyebabkan infeksi, AIDS adalah suatu kondisi. Tubuh yang terkontaminasi HIV dapat menyebabkan pengembangan AIDS. AIDS, atau HIV tahap 3, berkembang ketika HIV telah menyebabkan kerusakan serius pada sistem kekebalan tubuh.

Baca Juga: Kemenkes Siapkan Banyak Obat HIV Cegah Penularan

Stanislaus Bondan Widjajanto yang merupakan dokter di bidang kesehatan reproduksi, HIV dan penyakit menular seksual dari Klinik Angsamerah di Jakarta Selatan mengungkapkan obat PrEP itu sebenarnya adalah obat antiretroviral (ARV).

Seperti rilis yang disampaikan Komunitas Relawan Donor Darah, ARV sebelumnya hanya digunakan pada pasien yang sudah positif terinfeksi virus HIV, untuk menekan perkembangan virus.

“Yang diberikan untuk PrEP itu adalah (ARV merk) Truvada. Kandungannya ada dua; tenofovir dan emtricitabine,” katanya, Senin (2/11)

“Bondan bercerita, ketika HIV masuk ke tubuh, virus tersebut “membutuhkan enzim”. Tenofovir dan emtricitabine bekerja “menghambat produksi enzim itu sehingga virus tidak dapat menjalani proses pembelahan diri.” terangnya

Meskipun begitu, metode ini hanya direkomendasikan bagi mereka yang berisiko tinggi terinfeksi HIV, misalnya pekerja seks komersial, pengguna jarum suntik, heteroseksual atau homoseksual yang bergonta-ganti pasangan, dan pasangan serodiscordant atau yang salah satunya positif HIV.

“Bagi pasangan serodiscordant, kalau yang HIV negatif itu si istri (suami HIV positif) dan mereka ingin punya anak, maka si istri bisa dikasih PrEP dulu, setelah itu mereka boleh berhubungan seks tanpa kontrasepsi,” tutur Bondan.

Lebih jauh lagi, Bondan mengungkapkan PrEP bisa menjadi jawaban atas masih rendahnya kesadaran penggunaan kondom di Indonesia.

“Tidak semua orang bisa pakai kondom. Ada beberapa orang yang mengeluhkan, kalau pakai kondom, langsung disfungsi ereksi. Kan nggak mungkin memaksa mereka pakai kondom. Harus ada jalan keluar bagi mereka.”

Dengan segala keefektivannya, obat PrEP ternyata sulit diakses di Indonesia. Ini karena PrEP belum masuk dalam program pencegahan HIV pemerintah.

“ARV hanya tersedia untuk mereka yang positif HIV. Artinya jika (yang negatif HIV) ingin beli PrEP di dalam negeri, prosesnya tidak mudah,” tutur Setia.

Setia bercerita pernah mengunjungi beberapa klinik di Jakarta dan Bali yang menyediakan ARV untuk PrEP, “tetapi mereka kesulitan menjaga supply. Padahal obat PrEP harus diminum setiap hari supaya efektif.”

Setelah melakukan riset, ia pun menemukan bahwa sejumlah klinik pemerintah dan swasta di Bangkok, Thailand, telah menyediakan obat PrEP. Obat yang dijual adalah versi generik dari Truvada, yaitu Teno-Em, yang juga mengandung tenofovir dan emtricitabine.

“Harganya (Teno-Em) cukup terjangkau, hanya sekitar Rp250.000, per botol untuk satu bulan. Dari studi, efektivitasnya ternyata sama dengan versi paten (Truvada).”

Alhasil, setiap tiga bulan sekali Setia harus terbang ke Bangkok untuk membeli obat PrEP, “karena maksimal saya bisa dapat untuk tiga bulan sekaligus.” (sgr)

Komentar

News Feed