Warna Zona Penyebaran Covid-19 di Jabar Ikuti Gugus Tugas Pusat

  • Whatsapp
Gubernur Jawa barat Ridwan Kamil bersama Walikota Bekasi Rahmat Effendi saat pengecekan hari pertama pemberlakuan PSBB

KanalBekasi.com – Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat, akan mengubah lima warna zona dalam me-leveling atau menentukan level kewaspadaan pandemi Covid-19 di Jawa Barat menjadi empat warna, sesuai dengan zona warna dalam kategori risiko yang selama ini diterapkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pusat.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat, Mochamad Ridwan Kamil mengatakan, dalam minggu ini akan ada proses transfer dari level kewaspadaan provinsi menggunakan level kewaspadaan gugus tugas nasional.

Muat Lebih

Baca Juga: Masih Ada Kasus Baru, PSBB Kota Bekasi Diperpanjang Hingga 4 Juni

Yang tadinya kita hitam, merah, kuning, biru, dan hijau akan bergeser atau ditranslasi menjadi merah, oranye, kuning, dan hijau,” tutur Kang Emil, Selasa (14/7)

Adapun sebelumnya, Divisi Perencanaan, Riset, dan Epidemiologi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar menggunakan lima warna zona untuk level kewaspadaan di Jabar yaitu Level 5 atau Zona Hitam (Kritis), Level 4 atau Zona Merah (Berat), Level 3 atau Zona Kuning (Cukup Berat), Level 2 atau Zona Biru (Moderat), dan Level 1 atau Zona Hijau (Rendah).

Lima zona tersebut ditentukan berdasarkan leveling dan analisis dari sembilan indikator, yakni laju Orang Dalam Pemantauan (ODP), laju Pasien Dalam Pengawasan (PDP), laju perkembangan pasien positif, laju kesembuhan (recovery rate), laju kematian (case fatality rate), laju reproduksi instan (Rt), laju transmisi (contact index), laju pergerakan, dan risiko geografis.

Dilansir situs webnya, Gugus Tugas Pusat sendiri mengategorikan risiko menjadi empat yakni Zona Merah (Risiko Tinggi) atau penyebaran virus belum terkendali, Zona Oranye (Risiko Sedang) atau penyebaran tinggi dan potensi virus tidak terkendali, Zona Kuning (Risiko Rendah) atau penyebaran terkendali dengan tetap ada kemungkinan transmisi, serta Zona Hijau (Tidak Terdampak) atau risiko penyebaran virus ada tetapi tidak ada kasus positif COVID-19.

Ridwan Kamil menyatakan, selama dua hari terakhir pelaporan kasus Covid-19 sudah kembali di bawah 100 kasus per hari meski sebelumnya terdapat anomali lonjakan kasus karena klaster institusi pendidikan kenegaraan di Kota Bandung.

“Dua hari terakhir pelaporan kasus sudah di bawah 100 kasus lagi sebagai pola yang memang sudah kami pahami. Sehingga lonjakan (dari klaster institusi pendidikan kenegaraan) itu memang anomali atau spike dan sudah kita lewati,” imbuhnya.

Menurut Ridwan Kamil, lonjakan kasus tersebut berpengaruh terhadap Angka Reproduksi Efektif (Rt) Covid-19 di Jawa Barat, dimana dalam dua minggu terakhir menjadi kurang baik di angka 1,73 atau pertama kali Jawa Barat yang rata-rata di bawah 1, sekarang melewati angka 1.

“Jabar mampu menjaga positivity rate di bawah 5%, ini merujuk pengetesan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) oleh Gugus Tugas Jabar yang hingga kini mencapai 88 ribu pengetesan. Sudah berminggu-minggu setiap dilakukan tes PCR yang totalnya ada 88 ribu, positivity rate ada di 4,23 persen. Artinya, dari setiap 100 tes swab, orang Jabar hanya sekitar 4 orang yang positif,” jelasnya.(sgr)

Pos terkait