Tiga Fenomena Alam Penyebab Hujan Ekstrim di Bogor, Kota Bekasi Waspada Banjir Kiriman

  • Whatsapp
BPBD saat melakukan evakuasi banjir di salah satu perumahan di Kota Bekasi

KanalBekasi.com – Sejumlah perumahan yang berada di bantaran jalur sungai yang mempertemukan sungai Cileungsi dan Cikeas, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu (25/10) dini hari terendam banjir dengan rata-rata ketinggian 1 sampai 1,5 meter.

Kepala Seksi  Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi Hendra menuturkan tinggi air di jalur pertemuan sungai Cileungsi dan Cikeas masih di atas normal yakni mencapai 715 sentimeter pada Minggu dini hari ini.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: Sungai Tak Direvitalisasi 20 Tahun Berdampak Banjir Parah di Bekasi

“Beberapa perumahan yang terdampak dengan rata-rata tinggi air di atas satu meter. Yang paling tinggi di Villa Jatirasa, ketinggian 190 sentimeter,” ungkap Hendra, Minggu (25/10)

Hendra menuturkan tinggi air di jalur pertemuan sungai Cileungsi dan Cikeas masih di atas normal yakni mencapai 715 sentimeter pada Minggu dini hari ini. Tingginya air di jalur sungai tersebut berasal dari derasnya hujan di Bogor, Jawa Barat, sepanjang Sabtu (24/10)

Jalur Sungai Cikeas dan Cileungsi yang berhulu di Bogor melintasi Kota Bekasi dan bertemu di satu jalur Sungai Bekasi.

Kemudian, beberapa perumahan yang terdampak banjir pada Minggu dini hari ini, menurut Hendra, antara lain Villa Nusa Indah, Kemang Ifi, Pondok Mitra Lestari, Pondok Gede Permai, Vila Jatirasa, dan pemukiman lainnya yang berada di pinggir jalur sungai tersebut.

Bahkan, tinggi air yang menggenang beberapa perumahan tersebut variatif antara 40 sentimeter hingga 190 sentimeter.

“Ini karena hujan di hulunya di Bogor, airnya meninggi sejak Sabtu malam. Di sungai masih 715 sentimeter,” ujarnya menambahkan.

Sebelumnya Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengimbau seluruh pihak tetap waspada mengantisipasi tiga fenomena alam yang terjadi di wilayah Bogor dan sekitarnya. Di antaranya, fenomena La Nina, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), dan fenomena curah hujan yang tinggi.

Menurutnya, fenomena La Nina yang diprediksi akan menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi curah hujan bulanan di Tanah Air.

La Nina merupakan anomali sistem iklim global yang terjadi dengan periode ulang berkisar antara 2-7 tahun di Samudra Pasifik dan atmosfer, langit di atasnya berubah dari keadaan netral (normal) serta minimal berlangsung selama dua bulan.

Menurut prediksi dan data suhu muka air laut yang berada jauh di Samudera Pasifik dampaknya bisa sampai ke Bogor.

“Kebetulan saat ini sedang mengalami peningkatan curah hujan. Hal itu berarti terjadi dobel. Tak ada La Nina saja, Bogor ini juara, curah hujannya tinggi,” tuturnya

Masih dari penjelasannya, akumulasi curah hujan akan naik 20-40 persen. Pada fenomena La Nina yang terjadi yaitu pendinginan yang tidak biasa. Seperti, anomali suhunya melebihi -0.5 derajat celcius di area yang sama.

“Suhu muka air laut di Samudera Pasifik mengalami anomali. Saat ini sudah minus hampir mencapai satu derajat celcius. Sementara suhu muka air laut di kepulauan maritim Indonesia hangat. Maka terjadilah gap antara suhu muka air laut di Samudera Pasifik bagian tengah ekuator dengan Kepulauan Indonesia,” jelasnya menambahkan.

Tak hanya itu, dalam pekan ini juga akan masuk gelombang awan dari sebelah Timur Afrika Selatan memasuki kawasan Indonesia yang disebut fenomena Madden Julian Oscillation (MJO).

MJO ini merupakan gugusan uap air (awan) yang artinya uap air di wilayah Riau meningkat jumlahnya, sehingga pertumbuhan awan cukup bagus. Diprediksi potensi terjadinya hujan dengan intensitas tinggi, puncaknya di bulan Desember 2020, serta Januari dan Februari 2021.

“Artinya di minggu ini ada tiga fenomena bersinergi. Bersinergi ya itu fenomena La Nina, fenomena MJO, dan fenomena curah hujan aslinya di Bogor,” ungkapnya.(sgr)

Pos terkait