Program Restrukturisasi Kredit Bank Diperpanjang Hingga Maret 2022

  • Whatsapp
Ilustrasi

KanalBekasi.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap dalam kondisi terjaga berkat sejumlah kebijakan yang telah dilakukan termasuk pemberian restrukturisasi kredit perbankan, sehingga diputuskan untuk memperpanjang masa pemberian relaksasi restrukturisasi kredit perbankan selama setahun terhitung dari Maret 2021 menjadi Maret 2022.

“Kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit yang sudah dikeluarkan OJK sejak Maret tahun ini terbukti bisa menjaga stabilitas sektor jasa keuangan dari tekanan ekonomi akibat dampak pandemi Covid–19. Sehingga untuk tahapan percepatan pemulihan ekonomi kita perpanjang lagi sampai Maret 2022,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Kamis (5/11)

Baca Juga: Lapor Pajak Jadi Syarat Pengajuan Kredit Perbankan

Selain relaksasi restrukturisasi kredit, OJK juga tengah menyiapkan perpanjangan beberapa stimulus lanjutan seperti pengecualian perhitungan aset berkualitas rendah (loan at risk) dalam penilaian tingkat kesehatan bank, governance persetujuan kredit restrukturisasi, penyesuaian pemenuhan capital conservation buffer dan penilaian kualitas Agunan yang Diambil Alih (AYDA) serta penundaan implementasi Basel III. 

Hingga 5 Oktober 2020 realisasi restrukturisasi kredit sektor perbankan sebesar Rp914,65 triliun untuk 7,53 juta debitur yang terdiri dari 5,88 juta debitur UMKM senilai Rp361,98 triliun dan 1,65 juta debitur non UMKM senilai Rp552,69 triliun. 

Sementara untuk restrukturisasi pembiayaan perusahaan pembiayaan hingga 27 Oktober sudah mencapai Rp177,66 triliun dari 4,79 juta kontrak. Sedangkan restrukturisasi pembiayaan Lembaga Keuangan Mikro dan Bank Wakaf Mikro hingga 31 Agustus masing-masing mencapai Rp26,44 miliar untuk 32 LKM dan Rp4,52 miliar untuk 13 BWM.

Sementara itu, terpisah Direktur Utama bank BJB Yuddy Renaldi mengatakan restrukturisasi kredit diberikan kepada 7.492 nasabah dengan nilai mencapai lebih dari Rp2,7 triliun.

“Yang mengajukan permohonan sebesar Rp2,7 triliun. Namun sebenarnyayg terdampak mencapai 8.752 nasabah senilai sekitar Rp4,4 triliun,” ujarnya 

Ia menegaskan restrukturisasi itu antara lain diberikan kepada 3.929 nasabah kalangan UMKM dengan nilai sekitar Rp271 miliar, sisanya adalah nasabah komersil dan konsumer. 

” ini tidak mengganggu kinerja bjb, sebab total restrukturisasi  itu hanya sekitar 4,9 persen dari total portofolio kredit kami,” tegasnya.

Selain restrukturisasi,  khusus untuk UMKM bank bjb juga ikut membantu memberikan pendampingan agar mereka bisa terbebas dari himpitan dampak pandemi.

” Ini memberikan keyakinan kepada investor jika kreditur bjb tidak semua terdampak. Kredit konsumer tumbuh 7,2 persen menjadi Rp59,5 triliun, sementara kredit komersial tumbuh 15,7 persen menjadi Rp26,2 triliun. Kredit mikro tumbuh 7,1 persen menjadi Rp6,2 triliun. NPL pun masih terjaga,” jelasnya.(sgr)

Pos terkait