Pendidikan Tinggi Memasuki Era Revolusi Industri 4.0

  • Whatsapp
Menristekdikti,, Mohamad Nasir

KanalBekasi.com – Perguruan Tinggi Indonesia saat ini tengah dihadapkan oleh Tantangan Revolusi Industri 4.0. Kenyataan tersebut seiring dengan arus globalisasi serta perkembangan teknologi kian tak terbendung merambah ke setiap lini kehidupan.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir menegaskan, bahwa Indonesia tidak bisa menghindari tantangan tersebut. Karena itu, perguruan tinggi harus menghasilkan lulusan yang berkualitas.

“Sekarang kita masuk di era revolusi industri 4.0, inilah yang sedang kita hadapi. Untuk menyikapinya butuh kebijakan yang berbeda dari masa-masa sebelumnya,” kata Nasir saat memberi kuliah umum ‘Kebijakan Pendidikan Tinggi untuk Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0’ di Universitas Gunadarma Bekasi, Selasa (6/3).

Menurut Nasir, saat ini dunia pendidikan global telah melirik revolusi industri 4.0 sebagai dasar pengembangan sumber daya manusianya (SDM), karena secara tidak langsung SDM yang akan memberi dampak pada orientasi pembangunan negara di masa mendatang.

Nasir menjelaskan, revolusi industri 4.0 muncul dengan menekankan pembaharuan serba teknologi di antaranya lewat pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation, sehingga tepat bila perguruan tinggi mulai beradaptasi akan isu ini.

“Negara yang akan menang bukanlah yang mempunyai wilayah yang besar, bukan juga jumlah penduduknya yang banyak, tapi negara yang memanfaatkan SDM yang menghasilkan inovasi, itu yang akan menang,” kata dia.

Nasir menambahkan, berdasarkan evaluasi awal tentang kesiapan negara dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Indonesia diperkirakan memiliki potensi untuk bersaing, meski masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand untuk tingkat Asia Tenggara.

Sementara itu, terkait global competitiveness index pada World Economic Forum 2017-2018, Indonesia menempati posisi ke-36, naik lima peringkat dari tahun sebelumnya posisi ke-41 dari 137 negara.

“Indonesia berada di jalur yang benar, tetapi belum mampu berlari kencang menyusul Singapura, Malaysia, Thailand. Indonesia juga harus berhati-hati dengan Vietnam, sehingga kita harus terus maju dan memperkuatnya,” ujar Nasir.

Nasir mengungkapkan, sasaran kementeriannya saat ini ialah melakukan perubahan pada program dan model layanan yang lebih banyak menyediakan atau menggunakan teknologi digital (online) untuk diterapkan di perguruan tinggi.

Kendati begitu, berkenaan pengembangan sumber daya akan terus pihaknya persiapkan disamping penerapan model layanan berbasis teknologi yang terus digencarkan.

“Dari arus global ini kalau kita lihat situasinya bisa berdampak positif sekaligus negatif. Kalau positifnya yang diambil, dampaknya bisa mendorong investasi nasional dan mendorong lapangan kerja baru,” terang Nasir.

Ia berpesan kepada mahasiswa agar mampu melakukan inovasi-inovasi hebat, karena inovasi, sambungnya, merupakan dasar utama kuatnya suatu bangsa.(sgr)

Pos terkait