KanalBekasi.com – Seorang pedagang es kelapa bernama Barmizon (60) mengamuk saat penertiban spanduk dan pedagang kaki lima (PKL) di Perumahan Duta Harapan, Kelurahan Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Beritasatu.com/Rino Fajar Setiawan)
KanalBekasi.com – Penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Perumahan Duta Harapan, Kelurahan Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, berakhir ricuh.
Seorang pedagang es kelapa bernama Barmizon (60) mengamuk saat penertiban
bahkan mengacungkan senjata tajam dan mengancam Wali Kota Bekasi, Kapolres Metro Bekasi Kota, serta Dandim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Peristiwa itu terekam dalam video yang kemudian viral di media sosial. Kejadian berlangsung pada Minggu (8/2), ketika petugas melakukan penertiban spanduk dan mengangkut keranjang kelapa milik pedagang. Petugas menilai lapak tersebut berada di atas saluran air milik warga.
Tidak terima dengan penertiban tersebut, Barmizon mendatangi lokasi dalam kondisi emosi dan mengambil sebilah golok. Situasi sempat menegangkan sebelum akhirnya berhasil diredam oleh aparat di lokasi.
Barmizon kemudian diamankan dan dibawa ke Polsek Bekasi Utara untuk dimintai keterangan terkait peristiwa tersebut. Seusai kejadian, Barmizon menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada pejabat dan aparat yang hadir.
“Saya Barmizon mohon maaf kepada kapolres, bapak wali kota, bapak dandim dan jajarannya dari kejadian di warung es kelapa saya atas kesalahpahaman dan emosi saya saat penertiban spanduk di warung saya. Mohon dimaafkan dan saya tidak akan mengulangi lagi,” kata Barmizon.
Menanggapi insiden tersebut, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menekankan pentingnya sikap tenang dan pendekatan persuasif dalam menghadapi situasi di lapangan. Ia meminta jajarannya untuk tidak terpancing emosi meski menghadapi kondisi yang memanas.
Menurutnya masyarakat sekarang mudah untuk tersulut emosi, mudah untuk mengeluarkan kata-kata kotor, kata-kata binatang, dan lain sebagainya.
“Nah itu, justru saya ingin mengingatkan aparatur saya untuk tidak terpancing, penertiban harus tetap mengedepankan pendekatan humanis agar situasi di lapangan dapat dikendalikan tanpa menimbulkan konflik yang lebih luas,” pungkasnya.(red)





































