KanalBekasi.com – Seorang pasien salah satu Rumah Sakit (RS) Swasta di Kota Bekasi bernama Ira Puspita Rahayu (38) diduga menjadi korban mal praktek. Ira mencoba mencari keadilan dengan melayangkan surat yang ditujukan kepada Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila F Moeloek sampai ke Ombudsman Jakarta Raya.
Sebelumnya, Ira mengkau telah mengadukan perihal yang dialaminya kepada Dinas Kesehatan Kota Bekasi, pada 18 Februari 2019 lalu. Surat ke Menteri Kesehatan RI, dikirim tanggal 1 Maret 2019 kemudian, dia baru saja mengirim surat kepada Ombudsman perwakilan Jakarta Raya atas dugaan mal praktek dirinya.
Baca Juga: Pasien Pengguna Kartu Sehat Ditelantarkan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia berharap kasus yang menimpanya dapat segera diusut hingga tuntas oleh pihak terkait, terhadap rumah sakit dan dokter yang menanganinya saat menjalani operasi usus buntu.
“Hari Senin kemarin saya sudah mengirimkan surat ke Ombudsman perwakilan Jakarta Raya dan meminta perlindungan sekaligus mendesak agar rumah sakit dan dokter yang menangani penyakit sakit bisa diperiksa,” katanya, Selasa (5/3).
Dirinya memohon kepada menteri kesehatan agar memeriksa dan memanggil pihak manajemen rumah sakit dan dokter yang bersangkutan yang menangani operasi Appendix.
Ira menceritakan pernah menjalani operasi, dengan latar belakang penyakit berbeda sebanyak enam kali. Namun pasca di operasi yang terakhir ini, kondisi saya mengalami keanehan. Upaya ini dilakukan demi mencari keadilan atas musibah yang menimpa dirinya.
“Padahal saat itu luka bekas operasi usus buntunya ada dibagian perut sebelah kanan, setelah diperiksa rupanya muncul luka memerah yang kemudian berubah seperti luka bakar,” lanjutnya.
Kemudian, setelah ia melakukan konsultasi dan diagnosa ke rumah sakit lain, diketahui terdapat luka bakar di perut bagian kiri. Parahnya lagi, terjadi kerusakan jaringan kulit dan harus segera di operasi.
“Tanggal 25 saya operasi plastik luka saya ini di rumah sakit Mitra Bekasi Timur karena keterangan dokter saya menderita kerusakan jaringan kulit,” paparnya.
Akibat luka yang dideritanya belum membaik, dirinya harus beristirahat di rumahnya sampai lukanya membaik.
Pengemudi bus Transjakarta ini pun terpaksa belum dapat bekerja, padahal ia tulang punggung keluarga setelah menjadi orang tua tunggal bagi ketiga anaknya.
“Kalau gaji saya di Transjakarta tergantung jam kerja juga, makin sering saya narik makin besar gajinya, karena ada gaji hitungan per kilometer, kalo saya tidak kerja ya paling gaji pokok doank,” jelasnya.(gir)






































