KanalBekasi.com – Modus penipuan dengan dalih penambahan kuota haji kembali menelan korban. Seorang pria berinisial NH (40), warga Bekasi Timur, kehilangan uang hingga ratusan juta rupiah setelah diperdaya pelaku yang mengaku berasal dari instansi pemerintah.
Peristiwa tersebut dilaporkan korban ke Polres Metro Bekasi Kota pada Sabtu, (11/4).
Total kerugian yang dialami korban mencapai Rp600 juta, yang berasal dari tiga rekening berbeda di bank BRI dan BNI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Upaya untuk mengetahui kronologi yang di alami korban, kami mencoba menghubungi melalui telepon selular. Namun, korban mengaku kondisinya masih mengalami tekanan sikologis akibat penipuan yang menimpanya.
“Maap ya mas jangan sekarang, kondisi keluarga saya masih syok,” katanya singkat saat dihubungi melalui telepon dengan nada sedikit lemas.
Mengacu pada laporan polisi (LP) yang diterima, kasus ini bermula saat korban dihubungi seseorang yang mengklaim sebagai perwakilan kementerian terkait urusan haji. Dalam komunikasi itu, pelaku menawarkan tambahan kuota haji dengan sejumlah persyaratan administrasi.
Korban kemudian diarahkan untuk melakukan verifikasi data, termasuk pembuatan KTP digital dan pencocokan identitas melalui foto wajah. Pelaku juga meminta korban menunggu proses lanjutan dengan alasan akan diterbitkan barcode resmi dari Dukcapil.
Namun, situasi berubah ketika pelaku mendadak sulit dihubungi. Kecurigaan korban memuncak saat ia mengecek saldo melalui ATM dan mendapati seluruh uang di rekeningnya telah raib.
Dengan begitu, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia memastikan kasus tengah ditangani dan proses penyelidikan sedang berjalan.
“Kasusnya sedang kami selidiki. Nanti perkembangan penanganannya akan kami sampaikan melalui SP2HP kepada korban,” ujar Andi saat dikonfirmasi, Minggu (12/4).
Polisi pun mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap tawaran yang mengatasnamakan instansi resmi, terutama yang berkaitan dengan program haji. Warga diminta lebih berhati-hati dalam memberikan data pribadi maupun akses keuangan.
Kasus ini kembali menjadi alarm bahwa kejahatan digital terus berkembang dengan berbagai modus yang kian rapi dan meyakinkan. (red)






































