KanalBekasi.com – Keberadan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), kerap menimbulkan keresahan ditengah masyarakat, lantaran perawakan menyeramkan dan senang berhimpun secara bergerombol. Bahkan, tak jarang timbul gesekan antara ormas yang ingn menduduki wilayah kekuasaan tertentu. Anggapan negatif terhadap ormas pun, kini mulai ditepis .
Sekrertaris Jenderal Aliansi Ormas Bekasi, Mandalesta mengakui bahwa selama ini perspektif negatif tersebut telah terbangun ditengah masyarakat. Itu akibat adanya oknum tidak bertanggungjawab, sehingga menciderai nama baik organisasi.
“Ormas itu lahir dari masyarakat, dan sudah barang tentu, apa yang menjadi cita-cita terbentuknya ormas itu, ya untuk masyarakat juga. Contoh, ketika ada kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat, ormas punya andil untuk menyampaikan aspirasi masyarakat ke pemerintah. Tapi sekarang banyak oknum yang mencatut nama ormas,” ungkapnya, saat ditemui di Pondok Timur Indah, Bekasi Timur, Selasa (26/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca Juga: Mendagri Beri Penghargaan Bakesbangpol dan Ormas Berprestasi
Menurut Manda, sejak dibentuknya Aliansi Ormas Bekasi (AOB), perspektif negatif tersebut terus dihilangkan. lewat berbagai kegiatan sosial dengan memberikan santunan kepada anak Yatim dan Dhuafa dengan cara membagikan 1000 nasi bungkus setiap bulannya. Aksi sosial tersebut diyakini mampu menepis anggapan miring tekait keberadaan ormas.
“Kita tidak buktikan dengan ucapan, tapi tindakkan kita rasa itu sudah cukup, bahwa kita adalah bagian dari mereka, yang selalu berpihak kepada mereka (masyarakat),” ucapnya.
Baca Juga: Sekitar 700 Polisi, Siap Amankan Aksi Dem
Dibawah pimpinan H. M. Zaenal Abidin, AOB berkomitmen menjadi garda terdepan masyarakat, terutama persoalan sosial. “Alhamdulillah, Ketua Umum AOB, H.M. Zaenal Abidin selalu berpesan agar tidak menghilangkan budaya berbagi. Setiap Senin kita bagikan 1000 nasi bungkus setiap pekannya kepada PMKS. Dan setiap bulannya santunan ke Yatim dan Dhuafa. Uangnya darimana? uangnya dari kolektif temen-temen ormas di AOB,” kata Manda menambahkan.
Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat mencatat ada sebanyak 4.393 anak terlantar dan 1.385 gelandang dan pengemis di Kabupaten Bekasi tahun 2016. Sementara, pada tahun 2015, Dinas Sosial Jawa Barat mencatat ada sebanyak 682.229 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kabupaten Bekasi. Tentunya, kata dia, ini menjadi perhatian bersama, baik masyarakat ataupun Pemerintah Kabupaten Bekasi.
“Ini soal keseriusan Pemerintah saja sebenarnya. Mereka ini warga negara Indonesia, yang juga perlu kita perhatikan. Apalagi pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menjelaskan, Fakir miskin dan anak-anak terlantar di pelihara oleh Negara. Sudah jelas kalau ini harus menjadi perhatian kita semua, terutama pemerintah yang memiliki kebijakan terhadap rakyatnya,” imbuhnya.(sgr)






































