KanalBekasi.com – Greenpeace Indonesia menyoroti banyaknya sampah impor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkreng, Setu,Kabupaten Bekasi.
Menurut Greenpeace keberadaan sampah impor tersebut sudah ada sejak 2016 sampai 2018. Menurutnya impor sampah plastik di wilayah ASEAN meningkat sebanyak 171%. Lebih dari dua juta ton sampah plastik dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Inggris diduga ditampung di TPA ini.
Baca Juga: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Bekasi Ditarget Selesai Tahun ini
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dirilis dari keterangan yang diunggah melalui akun Twitter resminya @greenpeace.ID, Rabu (7/8) kemarin. Greenpeace menyebut banyak dari sampah ini terkontaminasi bahkan tidak bisa didaur ulang.
“Petinggi dari 10 negara ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) tahu bahwa hal ini adalah masalah yang sangat besar, tetapi mereka belum membahas kerja sama untuk membuat perubahan besar yang dibutuhkan,” tulis Greenpeace,
Greenpeace Indonesia menemukan sampah plastik dari negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Korea Selatan, Perancis, dan Swedia. Kebanyakan sampah impor yang ditemukan merupakan sampah produk sehari-hari.
“Familiar dengan sampah-sampah ini? Tidak? Yaiyalaaah ini kan sampah impor,” tulisnya kembali.
Daerah sekitar TPA Burangkeng, Bekasi, menjadi salah satu tempat menumpuknya sampah impor yang masuk ke Indonesia.
Sebagai informasi, TPA Burangkeng milik Pemerintah Kabupaten Bekasi ini telah melebihi kapasitas daya tampung sampah atau overload.
Kepala Bidang Kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Dodi Agus Supriyanto mengatakan saat ini tinggi tumpukan sampah yang idealnya 15 meter, kini telah mencapai 20 meter. Jika tidak diperluas, maka tinggi tumpukan sampah berpotensi terus bertambah dan membahayakan. (sgr)






































