KanalBekasi.com – Mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menanggapi rencana pemindahan Ibu Kota Jakarta ke Kalimantan Timur. Tidak hanya itu keinginan bergabungnya Kota Bekasi ke DKI Jakarta juga dikomentari mantan Bupati dua periode ini.
Lewat akun Twiter miliknya @Dedimulyadi71 menulis perihal rencana kepindahan ibukota. Ia mengatakan ada faktor historis yang melekat pada Jakarta dan Jawa Barat
Baca Juga: Keniscayaan Kota Bekasi Gabung ke DKI Jakarta
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Presiden telah mengumumkan perpindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Tepatnya, ke Kabupaten Kutai Kertanegara dan ke Kabupaten Penajam Paser Utara. Tahap berikutnya, tinggal ke DPR untuk dibahas bersama menjadi undang-undang,” tulis Dedi, Kamis (5/9)
Dedi menambahkan apabila disetujui, maka perpindahan Ibu Kota akan berdampak pada berbagai aspek baik sosial, ekonomi dan kultur politik Jakarta. Sehingga, diperkirakan akan terjadi perpindahan penduduk dari Jakarta ke Kalimantan Timur sebanyak lebih dari 2,5 juta penduduk.
Berdasarkan perjalanan sejarah, Jakarta merupakan kota perdagangan dan pusat pelabuhan sebagaimana tertulis dalam perjanjian antara Kerajaan Padjadjaran bersama Pemerintahan Portugis.
Tiruan prasasti perjanjian itu kini tersimpan di Museum Fatahillah. Jika kita menyelami berbagai koleksi di musem itu, justru banyak sekali artefak sejarah yang berasal dari peradaban Sunda.
“Maka saya berpendapat, sebaiknya Jakarta disatukan dengan Jawa Barat dengan nama Jawa Barat Raya dengan Jakarta sebagai ibu kotanya. Ini sekaligus mengakomodir keinginan Kota Bekasi, Depok dan daerah lain yang ingin bergabung ke DKI Jakarta karena persamaan kultur,” pungkasnya
Sebagai informasi, aspek historis Kerajaan Padjajaran di Sunda Kelapa (Jakart) dimulai pada tahun 1522, pihak Portugis siap membentuk koalisi dengan Sunda untuk memperoleh akses perdagangan lada yang menguntungkan. Tahun tersebut bertepatan dengan diselesaikan penjelajahan dunia oleh Magellan.
Raja Sunda sepakat dengan perjanjian persahabatan dengan raja Portugal dan memutuskan untuk memberikan tanah di Ciliwung sebagai tempat berlabuh kapal-kapal Portugis. Selain itu, raja Sunda berjanji jika pembangunan benteng sudah dimulai maka dia akan menyumbangkan seribu karung lada kepada Portugis.
Dokumen kontrak tersebut dibuat rangkap dua, satu salinan untuk raja Sunda dan satu lagi untuk raja Portugal; keduanya ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1522
Perjanjian inilah yang memicu serangan tentara Kesultanan Demak ke Sunda Kelapa pada tahun 1527 dan berhasil mengusir orang Portugis dari Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527. Tanggal ini di kemudian hari dijadikan hari berdirinya Jakarta.(sgr)






































