KanalBekasi.com – Kisah getir dan pahitnya pengalaman hidup sering kita jumpai di tengah kehidupan masyarakat. Seperti yang dialami seorang warga Kampung Buaran, Harapan Mulya, Medan Satria, Kota Bekasi, bernama Iskandar (64), yang harus menerima pahitnya kehidupan dalam berumah tangga.
Dia harus rela kehilangan pekerjaan akibat penyakit diabetes yang mengharuskan kakinya diamputasi, hingga dicampakkan oleh istri dan anaknya.
“Jadi karena diabetes akhirnya diamputasi kaki kiri saya. Itu tahun 2018. Saat itu, status saya masih punya istri. Tapi selepas sakit udah gak ada perhatiannya, sampai gak ditengokin lagi. Udah ngerawat anak juga dari kecil, tapi udah besar malah saya dibiarin,” katanya lirih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca Juga: Ciri Khas Corak Batik Bekasi Diciptakan Penyandang Disabilitas
Dia menceritakan, awalnya semua baik-baik saja, sampai akhirnya ia tidaak lagi bekerja di bidang bangunan salah satu perusahaan swasta. Namun semua aktivitas itu berhenti sejak tahun 2013, ketika penyakit menahun yang dialami mengharuskan dirinya untuk tidak lagi bekerja karena keterbatasan fisiknya.
Iskandar mengaku tak mengetahui pasti penyebab dirinya diusir selepas sakit pada tahun 2018 lalu. Teman sekaligus tetangga di tempat tinggalnya yang lama bersedia menampung. Kurang lebih sudah delapan bulan Iskandar tidak menempati rumahnya terdahulu.
“Barang-barang saya sampai dibuang. Akhirnya saya bawa semuanya ke sini. Itu mungkin jadi cobaan saya, saya cuman bisa istigfar. Kalau udah kejadian ini, mau gak mau, harus dijalanin lah,” lanjut Iskandar mengisahkan bilur-bilur perjalanan hidupnya.
Setelah diusir oleh istrinya, kini Iskandar tinggal di rumah hasil meminjam dari temannya di Jalan Palem 1, Kelurahan Harapan Mulya, Kecamatan Medan Satria. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dia hanya mengandalkan pendapatan dari lahan sewa parkiran.
“Itu tidak cukup memenuhi kebutuhannya sehari-hari sehingga terkadang masih menerima bantuan dari tetangga. Supaya berpenghasilan yang cukup layak, setidaknya butuh usaha lebih. Maka saya berharap mendapatkan kaki palsu”, seloroh Iskandar berharap ada yang bersedia membelikannya kaki palsu.
Ia mengaku, untuk mendapatkan kaki palsu membutuhkan biaya jutaan rupiah. Dia pun pernah mencoba meminta bantuan pada Pemerintah Kota Bekasi agar mendapatkan bantuan berupa kaki palsu menggunakan Kartu Sehat (KS) berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) namun sampai saat ini belum mendapatkannya, meskipun petugas Pemantauan dan Monitoring (Pamor) telah melakukan pendataan dirinya.
“Dulu kalau berobat kontrol pakai KS (Kartu Sehat). Tapi ketika saya bilang mau kaki palsu, malah saya diomelin”, ucap Iskandar menyampaikan kekecewaannya.
Andaikan ada cara lain mendapatkan kaki itu, Iskandar sangat berterimkasih. Atas kisahnya tersebut.
Ia pun sangat berharap kepada siapa saja yang ingin membantunya memiliki kaki palsu, agar bisa melakukan pekerjaan seperti sedia kala tanpa harus membebani orang lain.
“Biar aktivitas lancar dan gak ngerepotin orang, kan gak punya duit, kalau ada kaki enak bisa kemana-mana. Mungkin kalau udah ada kaki bisa usaha, atau bantu-bantu orang,” tutup Iskandar yang sampai saat ini masih mengharapkan uluran tangan pemerintah dan para darmawan.(ael)






































