Di tengah riuhnya isu konflik global dan krisis lingkungan yang kian terasa, ada satu sudut di Desa Jabon Mekar yang justru menghadirkan harapan. Bukan melalui wacana panjang atau janji besar, tetapi lewat aksi nyata yang sederhana namun berdampak.
Rabu pagi, 22 April 2026, peringatan Hari Bumi 2026 terasa berbeda. Festival bertajuk “Our Power, Our Planet (Kekuatan Kita, Planet Kita)” bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi ruang bertemunya kesadaran, kolaborasi, dan gerakan nyata yang digagas oleh Yayasan Indah Berbagi bersama Kementrian Dalam Negeri dan Ford Foundation.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Abdul Ghofur, S.STP., M.Si., selaku Plh. Direktur Organisasi Kemasyarakatan Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, memberikan apresiasi yang bukan basa-basi. Ia melihat festival ini sebagai bentuk konkret di tengah situasi dunia yang seringkali justru memperparah kerusakan lingkungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pesannya yang lugas, ia mengingatkan sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi sering kita abaikan: menjaga lingkungan dimulai dari diri sendiri. Tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi plastik, hingga beralih dari ketergantungan pada bahan bakar fosil. Hal-hal kecil yang jika dilakukan bersama, akan menjadi kekuatan besar.
Kehadiran unsur pemerintah dan aparat wilayah juga memperkuat semangat kolaborasi dalam kegiatan ini. Tampak hadir Adhi Nugraha, S.STP., M.H., selaku Camat Parung; Maman Firmansyah, S.H., selaku Kapolsek Parung; serta Ina Yuliana, S.E., selaku Kepala Desa Jabon Mekar, yang bersama-sama mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Namun, festival ini tidak berhenti pada kata-kata.
Di bawah kepemimpinan Ade Subagyo, kegiatan ini dirancang menjadi pengalaman yang hidup. Ada workshop daur ulang plastik, pengolahan kertas dan kardus, pembuatan eco enzyme, budidaya maggot, hingga fashion show berbahan limbah. Bahkan, film edukasi pun diputar untuk menanamkan kesadaran sejak dini.
Sebanyak 700 pelajar hadir dan terlibat langsung dalam lebih dari 20 kegiatan edukasi lingkungan. Mereka bukan hanya menjadi penonton, tetapi pelaku. Dan di situlah letak harapannya—ketika generasi muda tidak hanya tahu, tetapi juga mau bertindak.
Menariknya, festival ini juga menjadi bagian dari gerakan global yang diakui oleh EarthDay.org, di mana hanya sembilan titik di Indonesia yang tercatat sebagai bagian dari perayaan dunia. Sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa gerakan lokal pun bisa berdampak global.
Dukungan lintas sektor ini menjadi bukti bahwa menjaga bumi bukanlah tanggung jawab satu pihak saja, melainkan kerja bersama yang membutuhkan sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan pegiat lingkungan. Yang paling penting, festival ini meninggalkan satu pesan yang kuat: perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Karena pada akhirnya, bumi tidak membutuhkan kita untuk sempurna. Ia hanya butuh kita untuk peduli—dan mulai bertindak. Dari Parung, kita belajar bahwa harapan itu nyata. Dan masa depan bumi, ternyata, masih bisa kita jaga… bersama. (Red)





































