KanalBekasi.com – Masyarakat diperdebatkan soal efek naiknya stamina pasca menkonsumsi narkoba jenis sabu. Kalangan artis yang kedapatan menkonsumsi narkoba mengakui jadwal kerja padat jadi alasan mereka menggunakan barang haram tersebut.
Nahasnya bukan hanya kesehatan yang terancam, satu persatu dari mereka kini berurusan dengan hukum.
Baca Juga: KPAD Ingatkan Penggunaan Vape Jadi Jalur Masuk Narkoba
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lantas apakah benar narkoba dapat membangkitkan stamina. Dokter yang bertugas di salah satu Rumah Sakit di Jakarta, Dokter Kiki Dwi muljanti mengatakan tidak benar narkoba mampu membangkitkan stamina.
“Mungkin untuk sesaat iya, selebihnya hanya sugesti saja,” kata Kiki, Rabu (24/7)
Secara umum, sambung Kiki sifat narkoba ada tiga, sebagai stimulan, depresan, dan halusinogen. Tipe stimulan ini yang mampu membuat tubuh lebih bersemangat dan tidak mudah lelah.
“Jenisnya kokain, sabu-sabu, dan ekstasi, setiap habis konsumsi jenis itu badan terasa on kembali”Jelas Kiki
Sementara narkoba bersifat depresan merangsang tubuh menjadi lebih tenang dan mengantuk. Beberapa jenis narkoba yang termasuk dalam kelompok ini adalah morfin dan opium.
Berbeda halnya dengan yang sifatnya halusinogen, jenis ini memiliki efek mengacaukan persepsi di otak, sehingga membuat pemakainya berhalusinasi. Narkoba jenis adalah ganja.
“Biasanya jenis narkoba bersifat stimulan yang membuat tubuh tidak mudah lelah dan mengantuk. Padahal, efek yang ditimbulkan ini hanya bersifat sementara. Setelah efek narkoba habis, tubuh justru akan terasa sangat lelah,” imbuh kiki
Selain itu, narkoba jenis stimulan dapat merangsang jantung untuk berdetak lebih kencang dan lebih kuat. Lambat laun, jantung akan lebih cepat lelah sehingga terjadilah kerusakan jantung. Selain jantung, organ lain seperti otak, hati, paru-paru, dan ginjal juga akan mengalami kerusakan karena efek narkoba ini.
“Narkoba jenis sabu yang paling menyebabkan kerusakan permanen,” jelasnya
Kiki menerangkan, awalnya dari peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, kerusakan pembuluh darah di otak yang dapat menyebabkan stroke atau detak jantung yang tidak teratur sehingga berakibat kerusakan kardiovaskular dan kerusakan pada liver (hati), ginjal dan paru-paru.
“Biasanya pengguna mengalami kerusakan otak, termasuk melemahnya daya ingat dan meningkatnya ketidakmampuan untuk memahami pemikiran abstrak. Yang sembuh biasanya disebabkan mengalami ingatan kosong dan ayunan suasana hati yang berlebihan,” pungkasnya. (sgr)






































