KanalBekasi.com – Sepak bola Indonesia kembali berduka, kali ini dikarenakan kematian 2 bobotoh pada saat pertandingan lanjutan Piala Presiden grup C yang mempertemukan antara Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya yang dilaksanakan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api.
Laga ini termasuk kedalam salah satu laga yang cukup sengit dalam sejarah sepakbola Indonesia mengingat Persib maupun Persebaya merupakan tim yang sudah mentereng sejak masa perserikatan. Selain itu, kedekatan antara kedua belah pihak supporter juga menjadikannya sebagai laga yang cukup sengit. Melihat kondisi pandemi selama kurang lebih dua tahun terakhir membuat sepak bola Indonesia sempat terjeda dan kemudian kembali digulir namun tanpa penonton. Sepak bola merupakan salah satu hiburan terbesar dan sangat dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Piala Presiden pada tahun ini merupakan kompetisi yang kembali memperbolehkan untuk dihadiri oleh penonton.
Animo masyarakat untuk menonton langsung ke stadion juga tidak dapat dibendung, terlebih Persib Bandung merupakan salah satu klub terbesar di Jawa Barat bahkan Asia. Hal tersebut dapat dilihat saat pertandingan pertama Persib Bandung melawan Bali United pada Minggu 12 Juni 2022 dihadiri lebih dari 15 ribu penonton. Jumlah tersebut naik dua kali lipat saat pertandingan Persib melawan Persebaya. Kapasitas dari Stadion Gelora Bandung Lautan Api adalah 38.000 dan pada pertandingan tersebut terisi sebanyak 37.872 orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dapat dikatakan bahwa stadion terisi penuh hingga 99%. Laga Persebaya vs Persib digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 17 Juni 2022. Persib Bandung selaku tuan rumah Grup C berhasil memenangi laga tersebut dengan skor 3-1 berkat gol-gol dari Viktor Igbonefo, Niuipers, dan Ciro Alves. Sementara gol Persebaya Surabaya dicetak oleh Leo Lelis ketika laga baru berjalan 17 menit melalui titik putih. Namun kemenangan Persib Bandung tercemar karena dua orang suporter bernama Asep Ahmad Solihin dan Sofian Yusuf meninggal dunia saat hendak menyaksikan pertandingan.
Kejadian tersebut disebabkan oleh pihak suporter yang berdesakan untuk memaksakan masuk kedalam stadion. Berdasarkan situs resmi PSSI, pihak kepolisian hanya mengizinkan sebanyak 15 ribu suporter untuk menonton di Gelora Bandung Lautan Api dari kapasitas maksimal yaitu 38 ribu. Akan tetapi, suporter yang datang kemungkinan besar melebihi 15 ribu orang. Hal itu juga dapat terlihat dari kapasitas GBLA yang hampir penuh. Itu artinya ada potensi penonton tanpa tiket atau memakai identitas palsu yang masuk kedalam stadion. Panpel pun kena “semprot” publik sepak bola Tanah Air karena penyaringan suporter yang buruk di stadion. Pengamat sepak bola senior Anton Sanjoyo angkat bicara terkait kejadian tersebut, “Memang suporter kita ini tidak pernah punya wahana untuk dididik dalam tanda kutip kan. Kita tidak pernah punya kompetisi yang cukup dari level muda, remaja, sampai ke level senior yang tersebar ke daerah-daerah. Itu seharusnya yang bisa mendidik suporter. Kalau masuk ya harus pakai tiket, kalau kalah ya jangan marah, kalau menang ya silakan merayakan sewajarnya. Nah itu kan tidak pernah terdidik di level-level itu. Tiba-tiba punya euforia luar biasa menonton pertandingan sekelas Persib di level Liga 1. Karena itulah kita selalu punya masalah dengan crowd dan kerumuman yang tidak pernah bisa terkontrol. Karena mereka tidak terdidik.
Yang tidak bawa tiket dan tidak punya tiket memaksa masuk misalnya. Yang punya tiket karena merasa punya hak, jadi memaksa masuk. Panitia pelaksana juga tak punya pengetahuan yang cukup bagaimana untuk mengontrol itu,” ujarnya. Disisi lain, pihak suporter pun angkat bicara, Sekertaris Umum Viking Persib Club, Tobias Ginanjar juga menyayangkan insiden kericuhan yang merenggut korban jiwa suporter. Menurut Tobi, sapaan Tobias Ginanjar, peristiwa penonton berdesak-desan seperti yang terjadi di laga Persib vs Persebaya, acap terjadi di pertandingan sepak bola Indonesia, termasuk di laga kandang Persib.
Tetapi itu seperti tak pernah menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk melakukan persiapan dan menjalankan prosedur secara baik untuk meminimalisasi jatuhnya korban. Hal itu diungkapkan Tobi saat turut hadir di depan Graha Persib, Jalan Sulanjana, Kota Bandung, dalam aksi solidaritas bagi suporter korban kericuhan di laga Persib vs Persebaya. “Kita sangat menyesalkan, karena memang kejadian itu tidak perlu terjadi, jika semua pihak menjalankan prosedur dan kesiapannya dengan baik,” tegas Tobi.
Aksi solidaritas yang dilakukan di depan Graha Persib pada Minggu, 19 Juni 2022 merupakan bentuk keprihatinan suporter terhadap kesiapan panitia pelaksana. Menurut Bobotoh, ini merupakan suatu fenomena sosial yang tidak bisa diselesaikan dengan satu cara. Penanganannya pun harus diselesaikan secara komprehensif dengan melibatkan banyak pihak. Terlepas dari kemungkinan keterlibatan oknum suporter yang membuat Gelora Bandung Lautan Api kian sesak, panpel seharusnya mampu menerapkan sistem kontrol penjualan tiket yang efektif dan melibatkan banyak personel di lapangan.
Panpel seharusnya dapat mempersiapkan segalanya, bahkan harus memahami juga akan ada risiko membeludaknya suporter apabila tim-tim besar berlaga. Sampai saat ini, pihak kepolisian yang terkait masih menyelidiki terkait kasus kematian ini. Menurut Kabid Humas Kombes Pol Ibrahim Tompo menyampaikan bahwa, kronologi sementara gambaran umum, bahwa kondisi penonton yang tidak mempunyai tiket memaksakan untuk masuk. Imbas dari kejadian tersebut, izin dihelatnya Piala Presiden grup C di Stadion GBLA dicabut. Pertandingan selanjutnya akan dilangsungkan di Stadion Si Jalak Harupat. Pertandingan pun tidak akan dapat dihadiri oleh penonton.
Penulis : Zane Rose Alfirda K H
Mahasiswa S1 Digital PR, Telkom University






































