KanalBekasi.com – Anggota DPRD Kota Bekasi, Tanti Herawati dari Fraksi Golkar–Solidaritas, menyerap aspirasi warga di wilayah RT 002/RW 08, Kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Bekasi Timur. Kunjungan yang berlangsung pada Sabtu (2/11) sore itu mengungkapkan dua persoalan utama yang menjadi perhatian warga: pendidikan dan kesehatan.
Pada sektor pendidikan, Tanti menyoroti berbagai keluhan yang muncul terkait kebijakan sistem zonasi yang dinilai mempersulit warga Bekasi Timur dalam mengakses pendidikan di sekolah negeri. Warga mengeluhkan bahwa meskipun jarak sekolah negeri terdekat cukup dekat, banyak yang tak bisa memasukkan anak-anak mereka ke sana.
Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah pengalaman warga yang memiliki anak berprestasi namun tetap gagal diterima di sekolah negeri terdekat. Menurut mereka, kebijakan zonasi tak hanya membatasi pilihan sekolah, tetapi juga dianggap menghambat peluang anak-anak yang memiliki potensi akademik tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanti, yang juga anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi yang membidangi pendidikan, menekankan bahwa kebijakan zonasi harus mempertimbangkan berbagai aspek agar tidak mematikan semangat berprestasi di kalangan siswa. “Sistem zonasi ini harus dievaluasi agar lebih adil bagi semua pihak, terutama bagi anak-anak yang berprestasi,” ujarnya.
Keluhan lain yang muncul dari warga terkait minimnya guru agama di sekolah-sekolah negeri. Di banyak sekolah, hanya ada satu guru untuk mata pelajaran Agama Islam, yang dianggap kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran. Hal ini, menurut Tanti, dapat berdampak pada perkembangan pendidikan agama di sekolah.
Di sektor kesehatan, aspirasi warga juga mengungkapkan adanya kebutuhan pelatihan yang lebih baik untuk kader Posyandu. Tanti mencatat, banyak kader Posyandu yang kesulitan menggunakan fasilitas yang ada karena kurangnya pelatihan yang mereka terima. Situasi ini dikhawatirkan mengurangi efektivitas pelayanan kesehatan di lingkungan mereka.
Tak hanya pelatihan, warga juga mengeluhkan minimnya fasilitas kesehatan seperti alat pengecek tekanan darah yang dibutuhkan terutama untuk lansia. Keterbatasan alat ini dianggap berisiko bagi kesehatan lansia yang membutuhkan pemantauan rutin, terutama di Posyandu yang melayani banyak warga.
Mendengar keluhan-keluhan ini, Tanti menyatakan akan membawa isu ini ke Komisi IV untuk dicarikan solusi bersama dinas terkait. Dia menegaskan pentingnya peningkatan fasilitas dan pelatihan bagi kader Posyandu untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Kehadiran Tanti dalam reses ini juga direspons positif oleh warga. Banyak yang berharap bahwa aspirasinya kali ini dapat diwujudkan dan tidak sekadar menjadi janji politik semata. Tanti sendiri merasa bangga dan berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan warga kepadanya.
“Saya sangat bangga karena begitu banyak masyarakat memberikan amanah kepada saya untuk merealisasikan harapan dan aspirasi mereka. Saya bertekad untuk memperjuangkan setiap aspirasi yang telah disampaikan,” ungkap Tanti.
Tanti juga menjelaskan bahwa meski ada kendala di lapangan, ia akan berusaha memastikan agar aspirasi tersebut masuk dalam perencanaan pemerintah daerah. Ia berharap kerja samanya dengan dinas terkait bisa mempercepat proses peningkatan pelayanan publik, khususnya dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
Selanjutnya, Tanti berjanji akan terus memantau perkembangan usulan-usulan yang telah disampaikan warga, dan akan melakukan evaluasi berkala terkait efektivitas kebijakan zonasi serta peningkatan fasilitas kesehatan di Bekasi Timur.
“Saya berharap bahwa aspirasi masyarakat ini bisa benar-benar direalisasikan. Kita harus optimis kunjungannya di masa reses kali ini tidak hanya menjadi formalitas, melainkan langkah nyata dalam perjuangan memenuhi kebutuhan warga Bekasi Timur,” pungkasnya. (Adv)






































