KanalBekasi.com – Setelah 2 tahun Indonesia dilanda pandemi Covid-19, akhirnya pada bulan April angka kasus menurun sangat drastis sehingga dibawah seribu kasus baru. Namun, baru baru ini kasus Covid[1]19 meningkat kembali. Peningkatan jumlah kasus Covid-19 ini hampir 100% jika dilihat rata rata kasus selama 7 hari. Terdapat penambahan lebih dari seribu kasus baru Covid-19 pada hari Rabu, 15 Juni 2022 didasarkan data dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19. Seminggu kemudian pada hari Rabu, 21 Juni 2022 kasus baru Covid-19 terus meningkat hampir 2000 kasus.
Penyebaran Covid-19 ini paling tinggi di Jakarta, yang dikuti oleh Jawa Barat, dan Banten. Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, peningkatan kasus ini bukan dikarenakan lebaran atau hari raya keagamaan lainnya tetapi dikarenakan adanya varian Covid yang baru muncul. Ia mengatakan
“Kita lihat setiap kali terjadi lonjakan besar tiap negara, itu bukan karena hari raya keagamaan besar, tapi karena ada varian baru,”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak hanya di Indonesia, negara negara lain mengalami peningkatan kasus Covid-19 dikarenakan virus varian baru tersebut. Dari penyebab ini diperkirakan adanya gelombang 4 Covid-19 yang akan terjadi. Varian baru Covid-19 tersebut dinamakan Omicron BA.4 dan BA.5. Varian tersebut merupakan virus yang pertama kali ditemukan di Afrika. Di Indonesia, kasus ini pertama kali ditemukan pada awal bulan Juni.
Lonjakan kasus varian Omicron BA.4 dan BA.5 ini diperkirakan akan terjadi bulan Juli dikarenakan penyebaran varian virus ini sama cepatnya dengan varian Omicron. Namun, diperkirakan tingkat penularan dari varian terbaru ini hanya sepertiga dari puncak kasus Delta dan Omicron. Menurut BGS keadaan masih terpantau baik dikarenakan angka kasus aktif dan transmisi kasus dilaporkan rendah. Walaupun begitu, masyaratakat harus waspada dengan varian baru Covid-19 tersebut, mau yang sudah terinfeksi atau tidak pernah terinfeksi. Seseorang yang pernah terinfeksi kemungkinan rentan terinfeksi kembali.
Dengan mendapatkan vaksin booster, hal tersebut mencegah resiko dari penyakitnya. Namun, sebenarnya kasus ini juga naik dikarenakan penyebab lain seperti pelonggaran prokes, mobilitas yang tinggi, event yang mengumpulkan banyak orang, kurangnya kesadaran vaksin, dan merasa sudah bebas dari Covid-19. Jika kita tetap mengikuti protokol kesehatan dan tetap menjaga imun, kemungkinan tertular virus pun akan rendah. Wiku Adisasmito selaku Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, menegaskan bahwa lonjakan kasus sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat.
“Perlu disadari meningkatnya kasus Covid-19 tidak bisa kita hindari agar sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat,” kata Wiku dikutip dari keterangan persnya, Rabu (22/6). Dari pernyataan tersebut, aktivitas masyarakat yang meningkat dan melakukan mobilitas dapat meningkatkan kasus Covid-19. Selain itu, pelonggaran protokol kesehatan juga menjadi penyebab meningkatnya kasus Covid[1]19. Saat peraturan baru mengenai tidak memerlukan masker di luar ruangan membuat masyarakat merasa Covid-19 sudah tidak ada.
Sikap tersebut membuat protokol kesehatan tidak dijaga dan membuat penularan Covid-19 menjadi lebih cepat karena protokol kesehatan merupakan kunci untuk menghindari penularan Covid-19. Dengan meningkatnya kasus Covid-19, pemerintah menghimbau masyarakat untuk menjaga protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.
“Harapannya tentu masyarakat tetap tertib prokes. Itu yang menjadi titik kunci meningkatkan daya tahan tubuh,” ujar Sekertaris Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainah. Lalu, semua masyarakat dihimbau untuk memiliki aplikasi “PeduliLindungi” di handphonenya dan harus scan barcode untuk memasuki gedung atau ruangan. Aplikasi tersebut membantu untuk menekan angka kasus Covid-19 di Indonesia. Selain itu, pemerintah mendorong masyarakat untuk melakukan vaksin lengkap dan booster untuk meningkatkan imunitas tubuh. Masyarakat dengan vaksin yang lengkap tidak mudah terinfeksi dengan mudah. Masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin lengkap dan booster diberi fasilitas yang lebih mudah saat berpergian dengan tidak memerlukan hasil swab atau PCR. Selain itu, pemerintah memperkuat protokol kesehatan.
Salah satu tindakan pemerintah memperkuat protokol kesehatan yaitu membatasi event yang mendatangkan banyak orang. Maka dari itu, pemerintah harus memperkuat protokol kesehatan kembali dan mendorong masyarakat untuk vaksinasi lengkap hingga booster. Dengan itu, peningkatan kasus Covid-19 ini tidak terlalu tinggi dan akan menurun dengan cepat. Peningkatan kasus Covid-19 akhir akhir ini sangat dipengaruhi oleh varian baru yaitu Omicron BA.4 dan BA.5.
Adanya pelonggaran pelaksanan protokol kesehatan dari pemerintah walaupun tetap dianjurkan untuk menerapkan protokol kesehatan, membuat masyarakat berpikir mereka sudah bebas dari Covid-19. Sehingga, mereka melanggar protokol kesehatan yang membuat peningkatan kasus Covid-19 ini. Lalu, mobilitas masyrakat juga mempengaruhi kasus Covid-19 karena mempermudah penularan.
Dan kurangnya kesadaran untuk vaksin yang dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan imunitas tubuh agar tidak mudah terinfeksi. Pemerintah yang melihat kondisi tersebut membuat berbagai aturan kembali seperti memperketat protokol kesehatan, membatasi event yang didatangi banyak orang, mendorong masyarakat untuk vaksin lengkap hingga booster, dan lain lain untuk menekan angka kasus Covid-19 yang meningkat kembali.
Penulis: Sadira Ayu Marvella
Mahasiswa S1 Hubungan Masyarakat Universitas Telkom







































