Siapkah Indonesia Songsong Transformasi Digital ?

Senin, 27 Juni 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

KanalBekasi.com – Saat ini pesatnya perkembangan teknologi, informasi, komunikasi digital tentu saja memengaruhi banyak hal, karena telah mengubah cara manusia dalam berkomunikasi dan membawa manusia pada era informasi, suatu era dimana informasi menjadi salah satu kebutuhan yang mendasar. Hingga munculnya berbagai bisnis berbasis digital untuk mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhannya. Sejalan dengan salah satu isu utama yang dibawa Indonesia pada pertemuan forum G20 2022.

Indonesia menggoreskan sejarah dengan menjadi tuan rumah KTT G20 atau Group of Twenty pada 2022. Ini yang pertama bagi Indonesia menjadi tuan rumah forum internasional tersebut sebagai tanda diakui oleh negara lain dan diakui dunia. G20 atau Group of Twenty merupakan forum internasional atas kerja sama 19 negara dan Uni Eropa, yang fokus pada koordinasi kebijakan di bidang ekonomi dan pembangunan. Dengan tema “Recover Together, Recover Stronger” yang diusung Indonesia sebagai Presidensi G20 2022, terdapat tiga isu besar yang dinilai menjadi kunci bagi pemulihan yang kuat dan berkelanjutan, yaitu antara lain:  Fasilitas kesehatan global, Transformasi digital, dan Transisi energi berkelanjutan.

Menurut Westermen dan Bonnet (2011), transformasi digital adalah proses perubahan organisasi yang melibatkan manusia, strategi, strutuktur melalui penggunaan teknologi digital dan model bisnis yang menyesuaikan guna meningkatkan kinerja organsasi. Transformasi digital menjadi salah satu solusi utama untuk mendongkrak perekonomian di masa pandemi dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengaitkan dengan wacana yang diangkat Indonesia mengenai transformasi digital, memang terdapat maanfat yang diraih dari wacana tersebut, namun upaya proses transformasi digitalisasi di Indonesia ini nyatanya tidak semulus itu, dikarenakan kondisi Indonesia saat ini.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan infrastruktur komunikasi dan teknologi informasi digital untuk interkoneksi antar pulau, antar daerah, antar pemerintah daerah, atau antar instansi. Namun, masih banyak daerah yang belum tersentuh infrastruktur teknologi informasi digital, khususnya di Indonesia Timur. Masih banyak daerah di Indonesia yang belum terjangkau layanan telekomunikasi, hal ini dapat dimaklumi mengingat  luasnya wilayah Indonesia. Akibatnya, infrastruktur terkonsentrasi hanya di wilayah daratan dan perkotaan, namun sebagian besar di Jawa dan Sumatera. Pada akhirnya, kesenjangan infrastruktur ini mengarah pada kesenjangan digital.

Menurut Zulkarimen & nasution, (2007), Kesenjangan digital merupakan keadaan dimana terjadi gap antara mereka yang dapat mengakses internet melalui infrastruktur teknologi informasi dengan mereka yang sama sekali tidak terjangkau oleh teknologi tersebut.

Mengutip salah satu jurnal yaitu Jurnal Pekommas, Vol. 17 No. 2, Agustus 2014: 81-90 dari penulis Yayat D. Hadiyat mengenai studi kasus di Kabupaten Wakatobi dengan Judul Kesenjangan digital di Indonesia. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa infrastruktur dan layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Kabupaten Wakatobi masih kurang. Selanjutnya, masyarakat umum tidak dapat mengakses informasi dengan mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi digital. Sumber utama kondisi tersebut dikarenakan kesenjangan informasi masyarakat di Kabupaten Wakatobi. Kecilnya jumlah pengguna internet dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti akses internet dan kualitas internet di Kabupaten Wakatobi. Sebagai contoh dari minimnya akses Internet di Desa Wakato, terdapat dua warnet yang beroperasi melalui program Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK), itupun hanya merupakan bagian dari Program Pemerintah Pusat di Dinas Komunikasi dan Informatika.

Munculnya beberapa berita tentang teknologi komunikasi Informasi digital di wilayah Indonesia yang belum terkoneksi internet tentunya dapat menjadi pukulan telak bagi Indonesia yang mengupayakan transformasi digital tingkat internasional di forum G20. Penetrasi teknologi informasi digital tentunya sulit bagi masyarakat Indonesia, mengingat perkembangan infrastruktur teknologi masih begitu terkonsentrasi di kota-kota besar. Bahkan, masih ada beberapa daerah di Indonesia yang masih kesulitan menerima sinyal, belum lagi mendapatkan informasi secara cepat dan merata seperti penduduk kota besar lainnya.

Belum lagi tantangan yang harus dirasakan oleh masyarakat terutama UMKM dalam transformasi digital, karena realitanya berdasarkan survei Kata Data terhadap 206 UMKM di Jabodetabek pada 2020, Indeks Kesiapan Digital dari UMKM rata-rata di angka 3,6 atau masih di tahap menengah. Tantangan utama UMKM dalam melakukan transformasi digital diantaranya seperti: para talenta digital hanya sedikit yang bersedia untuk mendampingi UMKM, ekosistem ekonomi digital yang masih perlu diperbaiki di Indonesia, infrastruktur digital Indonesia masih belum cukup memadai, dan talenta digital Indonesia masih kurang.

Jika dilihat memang akan ada banyak keuntungan dari perkembangan digital atau wacara transformasi digital pada forum G20, namun dengan kondisi digital masyarakat Indonesia yang saat ini masih terkendala masalah kesenjangan digital. Hal ini wacana transformasi digital dapat menjadi boomerang bagi masyarakat Indonesia, dikarenakan upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah nyatanya masih belum cukup berhasil untuk memerdekakan Indonesia dari kesenjangan digital hingga hari ini. Infrastruktur dan juga pengetahuan masyarakat akan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi masih belum adil dan merata.

Demi keberhasilan transformasi digital, diharapkan semua pihak termasuk pemerintah dapat menanggulangi terlebih dahulu masalah yang ada yaitu kesenjangan digital, dengan mempersiapkan infrastruktur yang merata dan memadai di semua wilayah Indonesia termasuk daerah terpencil. Selain itu pemerintah untuk meminimalisir dampak negatifnya harus memaparkan dan menyerukkan literasi digital di Indonesia, dengan diajarkan di berbagai level pendidikan serta berbagai kalangan, sehingga, semakin baik literasi digital masyarakat Indonesia, maka akan lebih bijak dalam menggunakan media digital. Di sisilain, pemerintah dan masyarakat harus siap untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih berkualitas dan unggul dalam menghadapi era digital seperti sekarang ini.

 

Penulis: Devi Mulyanti

S1 Hubungan Masyarakat

Telkom University

Berita Terkait

Pemkot Bekasi Pastikan Program Hibah Rp 100 Juta per RW Tetap Berjalan
Kota Bekasi Darurat Peredaran Obat Keras
Pencairan Dana Rp 100 Juta/RW Tunggu Audit BPK
Pemkot Bekasi Garap Kabel Bawah Tanah Sepanjang 290 Km untuk Penataan Kota
Penyalahgunaan Plat Dinas Marak, Pemkot Bekasi Siap Jatuhkan Sanksi
Piutang Gaib PBB di Kota Bekasi Bikin Resah, Ini Penjelasan Bapenda
Anggota Komisi IV Soroti Pengangkatan Kepsek Definitif, Sedangkan Kadisdik Masih Plt
Kasus Perundungan di SDN. Jatimekar III, Plt. Kadisdik Soroti Lemahnya Pengawasan

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 20:57 WIB

Pemkot Bekasi Pastikan Program Hibah Rp 100 Juta per RW Tetap Berjalan

Kamis, 23 April 2026 - 00:13 WIB

Kota Bekasi Darurat Peredaran Obat Keras

Rabu, 22 April 2026 - 21:09 WIB

Pencairan Dana Rp 100 Juta/RW Tunggu Audit BPK

Senin, 20 April 2026 - 19:59 WIB

Pemkot Bekasi Garap Kabel Bawah Tanah Sepanjang 290 Km untuk Penataan Kota

Senin, 20 April 2026 - 19:49 WIB

Penyalahgunaan Plat Dinas Marak, Pemkot Bekasi Siap Jatuhkan Sanksi

Berita Terbaru

HUKUM DAN KRIMINAL

Polisi Amankan Ribuan Obat Keras Hasil Penggerebekan di Jatisampurna

Jumat, 24 Apr 2026 - 16:52 WIB